Buku Terkuat Dan Brown “The Da Vinci Code”

Siapa tidak kenal Dan Brown? Sejak novel karyanya, “The Da Vinci Code”, meledak di pasar, sang novelis terus menebar pesonanya dengan novel-novel thriller berikutnya yang selalu memukau.

Penulis yang satu ini menulis banyak karya dengan tema thriller, mulai dari Da Vinci Code sampai dengan Origin.Dan Brown (lahir 22 Juni 1964). Penulis Brown adalah sulung dari 3 bersaudara. Ia adalah lulusan dari universitas Amherst, sebelum menjadi penulis ia sempat berprofersi menjadi guru.

Novel-novel Brown diterbitkan dalam 52 bahasa di seluruh dunia dengan cetakan 200 juta eksemplar. Karyanya telah dicetak dan dialih-bahasakan ke dalam 40 negara di dunia. Dan Brown dan penerbit bukunya, Random House, dituntut oleh dua penulis Inggris, Michael Baigent dan Richard Leigh atas pelanggaran hak cipta terhadap buku mereka, The Holy Blood and Holy Grail. Brown memenangi kasus ini.

Dan Brown adalah penulis banyak novel terlaris #1, termasuk The Da Vinci Code, yang telah menjadi salah satu novel terlaris sepanjang masa serta menjadi bahan perdebatan intelektual di antara pembaca dan cendekiawan. Hebatnya lagi, buku ini difilmkan dengan artis pemeran utama pria yang berperan sebagai Robert Langdon adalan Tom Hanks, aktor Prancis Jean Reno memerankan tokoh detektif polisi Bezu Fache. Film ini dirilis pada pertengahan tahun 2006 dan disutradari oleh Ron Howard. Tapi taukah kalian? Ia mengungkapkan bahwa ada penyesalan tersendiri saat menyelesaikan novel terkenalnya itu.

 

Kehebatan The Da Vinci Code

Kisah dalam buku Dan Brown, terinspirasi dari pelukis legendaris. Leonardo Da Vinci sebenarnya tidak membutuhkan film untuk mendongkrak status legendarisnya, tetapi film itu selalu membantu untuk diabadikan di layar lebar. Lahir di Italia pada tahun 1452, ia sukses dalam banyak bidang kehidupan sehingga tidak mungkin untuk memuji ketenarannya hanya dengan satu disiplin tertentu.

 

Apa yang dapat kita katakan adalah bahwa Da Vinci meninggalkan warisannya di banyak bidang dan, lebih dari 500 tahun setelah kelahirannya, ia disebut-sebut sebagai seorang jenius yang mendahului zamannya. Berabad-abad sejak kematiannya, banyak biografi dan buku lain telah muncul, tetapi pada tahun 2006 ketika legenda itu dihidupkan kembali berkat film bernilai jutaan dolar.

Film Davinci Code menggunakan sejarah penting penemu dan dampak pada dunia saat ini melalui alur cerita yang sangat menegangkan. The Da Vinci Code menjadi novel terlaris dan menempati penjualan teratas di 2003 versi The New York Times. Bukunya pun menjadi karya terpopuler sepanjang masa dan terjual di seluruh dunia.

 

Memiliki Kisah Unik

Jacques Saunière, kurator Museum Louvre dan Grand Master Biarawan Sion, ditembak mati pada suatu malam di museum tersebut oleh seorang rahib Katolik,bernama Silas yang melakukannya atas nama seseorang yang hanya dikenalnya dengan sebutan Guru.

Dimana orang itu berkeinginan untuk menemukan lokasi sebuah barang penting yang disebut “batu kunci” dalam rangka pencarian Cawan Suci. Setelah jenazah Saunière ditemukan dengan poseVitruvian Man, polisi memanggil seorang profesor Harvard bernama Robert Langdon yang sedang berada di kota tersebut untuk urusan pekerjaan. Kapten Polisi Bezu Fache memberitahunya bahwa ia dipanggil untuk membantu polisi memecahkan kode rahasia yang ditinggalkan Saunière pada menit-menit terakhir menjelang kematiannya. Pesan tersebut berisi suatu deret Fabionacci yang tidak beraturan. Langdon menjelaskan kepada Fache bahwa Saunière adalah seorang otoritas terkemuka dalam subjek karya seni dewi dan bahwa yang digambar Saunière dengan darahnya sendiri merupakan suatu kiasan untuk sang dewi dan bukan “pemujaan setan” sebagaimana disampaikan oleh Fache.

Sophie Neveu, seorang kriptografer kepolisian, diam-diam menjelaskan kepada Langdon bahwa ia adalah cucu jauh Saunière, dan bahwa Fache berpikir Langdon adalah pembunuhnya karena pesan kakeknya menyebutkan “P.S. Cari Robert Langdon”, yang mana telah dihapus oleh Fache sebelum kedatangan Langdon. Neveu merasa gelisah karena kenangan tentang keterlibatan kakeknya dalam suatu kelompok rahasia. Namun Neveu memahami bahwa kakeknya mengharapkan Langdon untuk menguraikan kode tersebut, yang mana temuannya dan Langdon mengarahkan mereka ke kotak rahasia di Bank Penyimpanan Zürich cabang Paris.

 

Neveu dan Langdon meloloskan diri dari aparat kepolisian tersebut dan mengunjungi bank ini. Dalam kotak simpanan itu mereka menemukan batu kunci yang dicari: sebuah cryptex berupa silinder genggam dengan lima lempeng pemutar yang konsentris dan bertuliskan huruf-huruf. Ketika kelimanya disusun dengan benar maka perangkat tersebut akan terbuka. Saatcryptex ini dibuka paksa, sebuah botol cuka yang tertutup pecah dan melarutkan pesan di dalamcryptex yang tertulis pada papirus. Boks yang berisi cryptex memuat petunjuk-petunjuk tentang kata sandinya.

Novel ini juga mengeksplorasi suatu alternatif sejarah religius dengan titik plot sentralnya yaitu bahwa para raja Prancis dari Dinasti Meroving termasuk dalam garis keturunan Yesus Kristus dan Maria Magdalena, yang mana gagasan-gagasan ini berasal dari The Templar Revelation (1997) karya Clive Prince dan buku-buku karya Margaret Starbird. Novel ini juga merujuk pada The Holy Blood and the Holy Grail (1982) kendati Dan Brown menyatakan bahwa buku tersebut tidak digunakan sebagai bahan penelitian.

 

Penyesalan Dan Brown & Kontroversi Novelnya

Saat menyelesaikan novel ini dan di adaptasikan pada sebuah film, Brown sempat menyesali sesuatu.

Novel ini mengakibatkan banyak kritik ketika pertama kali diterbitkan karena deskripsi yang tidak akurat terkait aspek-aspek inti Kekristenan serta deskripsi arsitektur, sejarah, dan seni Eropa. Novel ini kebanyakan mendapat ulasan negatif dari kalangan Katolik dan komunitas Kristen lainnya.

Ia mengatakan dalam sebuah wawancara, ia berharap karakter yang dibuatnya yakni Robert Langdon bisa berpikir dua kali sebelum melompat keluar dari helikopter. Di novel Angels & Demons, saya berharap Langdon berpikir dua kali lagi sebelum melompat dari helikopter hanya. Karena sehelai kain yang memperlambat kejatuhannya,” ungkap Dan Brown, dilansir dari EW, Kamis (8/10/2020).

Beberapa kritikus mengklaim bahwa biarawan Sion adalah sebuah hoax yang diciptakan pada tahun 1956 oleh Pierre Plantard. Sang penulis juga mengklaim bahwa “semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen dan ritual-ritual rahasia dalam novel ini adalah akurat”, tetapi klaim ini dibantah oleh banyak pakar akademik dari berbagai bidang.

 

Saat wawancara tahun 2003 ketika Brown mempromisikan novelnya, ia menjawab bahwa semua bagian sejarah dalam novelnya mutlak. Timbulnya teori yang di tulis berasal dari seorang sejarawan dan rahib Sistersian abad ke-13 bernama Pierre dari Vaux de Cernay yang melaporkan kalau kaum Katar meyakini teori tentang “sisi duniawi” dari cerita keristenan tentang Maria Magdalena, dari buku berjudul The Holy Blood and The Holy Grail.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.